KAMPAR, Topindonesia.id – Spanduk berisi kritik terhadap kondisi infrastruktur di Kabupaten Kampar menjadi perhatian masyarakat setelah terpasang di depan Balai Bupati Kampar, Minggu (2/8/2026).
Aksi yang dilakukan Komunitas Mahasiswa Peduli Rakyat (KAMPAR) tersebut merupakan bentuk penyampaian aspirasi terkait lambannya penanganan Jalan Mahasantri di Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang. Warga menilai jalan tersebut telah mengalami kerusakan selama bertahun-tahun.
Bagi masyarakat setempat, Jalan Mahasantri bukan sekadar jalan lingkungan. Ruas jalan itu menjadi akses utama yang menghubungkan kawasan permukiman, pusat usaha, rumah kos, serta kawasan pendidikan yang berbatasan langsung dengan Kampus UIN Suska Riau. Kerusakan jalan dinilai berdampak pada mobilitas masyarakat, aktivitas ekonomi, dan akses menuju kawasan pendidikan.
Dalam spanduk yang dipasang, KAMPAR menyampaikan kritik bahwa pemerintah daerah dinilai belum memberikan perhatian yang memadai terhadap kondisi Jalan Mahasantri. Foto spanduk tersebut kemudian beredar luas dan menjadi perbincangan di media sosial.
Tim media kemudian meninjau langsung lokasi Jalan Mahasantri. Berdasarkan hasil pantauan di lapangan, sejumlah titik jalan mengalami kerusakan cukup parah. Lubang dengan berbagai ukuran, permukaan jalan yang bergelombang, serta genangan air di beberapa titik terlihat menghambat arus lalu lintas. Kondisi tersebut juga berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan, terutama bagi pengendara sepeda motor.
Sejumlah warga menyebut kerusakan jalan tersebut telah berlangsung cukup lama.
Salah seorang warga, Nursal, mengatakan masyarakat telah lama berharap pemerintah segera melakukan perbaikan.
"Setahu saya, sejak dibangun sekitar tahun 2010-an, jalan ini belum pernah diperbaiki secara menyeluruh. Padahal jalan ini menjadi akses utama masyarakat. Banyak rumah kos, kontrakan, dan usaha warga berkembang di sepanjang jalan ini karena berbatasan langsung dengan Kampus UIN Suska Riau. Kami hanya berharap pemerintah segera turun tangan sebelum kondisinya semakin parah," ujarnya.
Menurut Nursal, masyarakat tidak menginginkan polemik berkepanjangan. Mereka hanya berharap memperoleh infrastruktur yang layak agar aktivitas ekonomi, pendidikan, dan kehidupan sehari-hari dapat berjalan dengan lebih baik.
Koordinator Lapangan Komunitas Mahasiswa Peduli Rakyat (KAMPAR), Fiko Sahab, mengatakan pemasangan spanduk dilakukan setelah pihaknya menerima banyak keluhan dari masyarakat dan mahasiswa yang tinggal di kawasan tersebut.
"Aksi ini bukan untuk mencari perhatian. Ini murni berangkat dari kepedulian kami terhadap masyarakat. Kami ingin persoalan yang selama ini dikeluhkan warga benar-benar mendapat perhatian. Kami juga melihat langsung kondisi jalan ini setiap hari karena banyak anggota kami tinggal di kawasan tersebut. Ketika aspirasi telah lama disampaikan, tetapi masyarakat merasa belum mendapatkan jawaban yang diharapkan, kami memilih menyampaikan aspirasi secara terbuka dan damai," katanya.
Fiko menjelaskan, berdasarkan informasi yang dihimpun pihaknya, tokoh masyarakat bersama Pemerintah Desa Rimbo Panjang telah beberapa kali mengusulkan perbaikan Jalan Mahasantri kepada Pemerintah Kabupaten Kampar maupun Pemerintah Provinsi Riau.
"Kalau benar usulan sudah berkali-kali diajukan, tentu masyarakat berharap ada tindak lanjut yang nyata. Jalan ini bukan hanya dilalui warga sekitar, tetapi juga ribuan mahasiswa, pelaku UMKM, kendaraan distribusi barang, hingga masyarakat yang setiap hari beraktivitas menuju Kota Pekanbaru. Wajar apabila masyarakat berharap persoalan ini menjadi prioritas," ujarnya.
Menurut Fiko, dampak kerusakan jalan tidak hanya dirasakan oleh pengguna jalan, tetapi juga mulai memengaruhi kondisi sosial dan ekonomi masyarakat.
"Kami menerima informasi dari warga bahwa sebagian mahasiswa memilih pindah ke kawasan lain karena mempertimbangkan akses jalan yang lebih baik. Jika kondisi ini terus berlanjut, masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari rumah kos, kontrakan, maupun usaha kecil di sekitar Jalan Mahasantri juga berpotensi terdampak," jelasnya.
Melalui aksi tersebut, Komunitas Mahasiswa Peduli Rakyat (KAMPAR) berharap Pemerintah Kabupaten Kampar menjadikan persoalan Jalan Mahasantri sebagai salah satu prioritas penanganan.
"Kami menghormati pemerintah sebagai penyelenggara pembangunan daerah. Namun, kami juga berharap ada langkah konkret yang dapat dirasakan masyarakat," tutup Fiko.
