Aceh, Topindonesia.id - Provinsi Aceh selama ini menjadi titik penting dalam penentuan awal Ramadhan. Karena wilayah yang dijuluki Serambi Makkah itu berada di wilayah paling barat Indonesia.
Kondisi tersebut menjadikan Aceh memiliki keuntungan geografis yang signifikan dalam pengamatan hilal. Saat matahari terbenam, posisi bulan di atas ufuk lebih tinggi dibanding daerah lain di Indonesia. Ini membuat peluang melihat hilal lebih besar, terutama di titik-titik strategis seperti Sabang, Lhoknga, dan Calang.
Ketua Lembaga Falakiyah PWNU Aceh, Tgk Ismail, menjelaskan bahwa secara astronomi terdapat tiga parameter utama yang menjadi acuan dalam menentukan awal bulan Hijriah, yakni konjungsi (ijtima’), tinggi hilal, dan sudut elongasi Bulan. Ketiga parameter ini saling berkaitan dan menjadi dasar untuk menilai apakah hilal memungkinkan terlihat (imkanur rukyah) atau tidak pada saat Matahari terbenam.
“Konjungsi adalah titik awal perhitungan, yaitu saat bulan dan matahari berada pada bujur ekliptika yang sama. Namun konjungsi saja belum cukup, karena setelah itu kita harus melihat posisi bulan saat matahari terbenam,” ujarnya
Lebih lanjut, akademisi Ilmu Falak Universitas Islam Negeri Sultan Nahrasiyah Lhokseumawe itu mengatakan, berdasarkan data hisab falakiyah, penentuan awal Ramadhan 1447 Hijriah berkaitan dengan posisi hilal pada Selasa, 17 Februari 2026 M, yang bertepatan dengan 29 Sya’ban 1447 H.
“Pada hari tersebut, konjungsi geosentrik terjadi pada pukul 19.01.07 WIB. Artinya, saat Matahari terbenam di seluruh wilayah Indonesia, peristiwa konjungsi belum terjadi. Akibatnya, posisi Bulan pada saat Matahari terbenam masih berada di bawah ufuk barat,” paparnya.
Berdasarkan kajian ilmu falak tersebut, Lembaga Falakiyah PWNU Aceh mencatat pandangan awal bahwa bulan Sya’ban 1447 H bakal digenapkan menjadi 30 hari. Dengan demikian, PWNU Aceh memprediksi awal bulan Ramadhan 1447 Hijriah diprediksi bakal jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.Kamis depan InsyaAllah sudah masuk bulan suci!🙏🏻😇
Kondisi tersebut menjadikan Aceh memiliki keuntungan geografis yang signifikan dalam pengamatan hilal. Saat matahari terbenam, posisi bulan di atas ufuk lebih tinggi dibanding daerah lain di Indonesia. Ini membuat peluang melihat hilal lebih besar, terutama di titik-titik strategis seperti Sabang, Lhoknga, dan Calang.
Ketua Lembaga Falakiyah PWNU Aceh, Tgk Ismail, menjelaskan bahwa secara astronomi terdapat tiga parameter utama yang menjadi acuan dalam menentukan awal bulan Hijriah, yakni konjungsi (ijtima’), tinggi hilal, dan sudut elongasi Bulan. Ketiga parameter ini saling berkaitan dan menjadi dasar untuk menilai apakah hilal memungkinkan terlihat (imkanur rukyah) atau tidak pada saat Matahari terbenam.
“Konjungsi adalah titik awal perhitungan, yaitu saat bulan dan matahari berada pada bujur ekliptika yang sama. Namun konjungsi saja belum cukup, karena setelah itu kita harus melihat posisi bulan saat matahari terbenam,” ujarnya
Lebih lanjut, akademisi Ilmu Falak Universitas Islam Negeri Sultan Nahrasiyah Lhokseumawe itu mengatakan, berdasarkan data hisab falakiyah, penentuan awal Ramadhan 1447 Hijriah berkaitan dengan posisi hilal pada Selasa, 17 Februari 2026 M, yang bertepatan dengan 29 Sya’ban 1447 H.
“Pada hari tersebut, konjungsi geosentrik terjadi pada pukul 19.01.07 WIB. Artinya, saat Matahari terbenam di seluruh wilayah Indonesia, peristiwa konjungsi belum terjadi. Akibatnya, posisi Bulan pada saat Matahari terbenam masih berada di bawah ufuk barat,” paparnya.
Berdasarkan kajian ilmu falak tersebut, Lembaga Falakiyah PWNU Aceh mencatat pandangan awal bahwa bulan Sya’ban 1447 H bakal digenapkan menjadi 30 hari. Dengan demikian, PWNU Aceh memprediksi awal bulan Ramadhan 1447 Hijriah diprediksi bakal jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.Kamis depan InsyaAllah sudah masuk bulan suci!🙏🏻😇
#infobandaaceh #aceh #Ramadhan1447H #RamadhanMubarak
